Minggu, 09 Desember 2012



Penyebab abortus
oleh marianah
 
1. Umur,Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain.Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan remaja yang tidak dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga nonprofesional dapat menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan. Abortus yang terjadi pada remaja terjadi karena mereka belum matured dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa.
Abortus dapat terjadi juga pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat memengaruhi janin intra uterine.

2. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
3. Paritas ibu, Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.
4 Riwayat Kehamilan yang lalu, Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya abortus lagi pada seorang wanita ialah 73% dan 83,6%. Sedangkan, Warton dan Fraser dan Llewellyn Jones memberi prognosis yang lebih baik, yaitu 25,9% dan 39% (Wiknjosastro, 2007).

Rabu, 05 Desember 2012

Penanganan Hiperemesis Gravidarum

by : Phienna Ecca

hay kawand,... kemarin kan uda nih saya jelasin tentang tanda dan gejala HEG..... nah sekarang simak ya tentang penanganannya.....


Penanganan
1.     Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan  penerapan tentang kehamiloan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologi. Hal itu dapat dilakukan dengan cara :
a.       Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan.
b.      Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering.
c.       Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
d.      Hindari makan yang berminyak dan berbau lemak.
e.       Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas ataupun terlalu dingin.
f.       Usahakan defekasi teratur.
2.     Terapi obat-obatan
Apabila dengan cara di atas keluhan dan gejala tidak berkurang diperlukan pengobatan.
a.       Tidak memberikan obat yang teratogen.
b.      Sedetiva yang sering diberikan adalah Phenobarbital.
c.       Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6.
d.      Anthistaminika seperti dramamin, avomin.
e.       Pada keadaan berat, antiemetik seperti disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin.
3.      Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut :
a.       Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah, dan peredaran udara baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Catat cairan yang keluar dan masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala ini tanpa pengobatan.
b.      Terapi psikologik
Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Yakinkan penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan dan dihilangkan masalah atau konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
c.       Terapi parental
Berikan cairan parental yang cukup elektrolit, karbohidrat, dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnyvitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena. Buat dalam daftar kontrol cairan yang masuk dan dikeluarkan. Berikan pula obat-obatan seperti yang telah disebutkan di atas.
d.      Terminasi kehamilan
         Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan          pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterius, anuria, dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan  untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi di lain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ vital

TIF'ATUL MARWIYAH

HIV DALAM KEHAMILAN

Sering kali di beberapa seminar kesehatan dikatakan bahwa perempuan hamil yang terinfeksi HIV di Indonesia terus berambah dari tahun ke tahun. dari laporan DepKes RI diperkirakan sekitar 7000 perempuan hamil terinfeksi HIV setiap tahun. Proporsi perempuan yang terinfeksi HIV secara nasional sekarang ini sudah mencapai 40% dan sebagian besar perempuan tersebut berada dalam rentang usia subur.

dari beberapa seminar kebidanan diketahui bahwa Remaja yang menderita AIDS dapat pulih kembali keadaan fisiknya dan dapat kembali sekolah atau bekerja. Sebagian mereka merencanakan untuk menikah dan mempunyai anak. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta sekitar 78% pasien laki-laki yang terinfeksi HIV berasal dari kelompok narkoba suntikan namun sebaliknya pasien perempuan yang terinfeksi HIV 72% tertular dari pasangan seksualnya, pada umumnya tertular dari suami mereka.

Permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul jika perempuan hamil terinfeksi HIV antara lain adalah pengaruh infeksi HIV terhadap kehamilan dan pengaruh kehamilan terhadap perjalanan infeksi HIV. Di samping itu keadaan khusus ibu hamil tidak boleh diabaikan seperti pengguna narkoba, terinfeksi penyakit menular seksual, anemia, hipertensi, diabetes mellitus dan lain-lain.


JANTUNG DALAM KEHAMILAN
marianah, AMd.Keb

Kehamilan adalah peristiwa sementara dalam kehidupan wanita, tetapi kehamilan dengan penyakit jantung dapat menimbulkan perubahan yang mempunyai akibat yang nyata. Kehamilan akan menimbulkan perubahan pada system kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler dapat dijumpai pada wanita hamil atau tidak hamil. Jelaslah bahwa wanita dengan penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh timbal balik yang dapat mengurangi kesempatan hidup wanita tersebut.

Adaptasi normal yang dialami seorang wanita yang mengalami kehamilan termasuk system kardiovaskuler akan memberikan gejala dan tanda yang sukar dibedakan dari gejala penyakit jantung. Kehamilan dapat mengubah fungsi serta fisiologis kardiovaskuler sehingga dapat mempengaruhi tindakan maupun prognosis terhadap jantungnya. Oleh karena kelainan jantung dapat mempengaruhi kehamilan, maka perlu dipertimbangkan tindakan apa yang harus diambil serta nasihat apa yang perlu diberikan pada masa kehamilan. Untuk hal tersebut perlu dipertimbangkan akibat keadaan dan pengobatan jantung si ibu terhadap keadaan fetus yang akan dilahirkan. Akhirnya setiap dokter yang merawat wanita dengan penyakit jantung mempunyai tanggung jawab pemeliharaan baik waktu hamil maupun tidak hamil, pendidikan tentang fertilitas, daya reproduksi, anjuran tentang hamil ataupun kelanjutan kehamilannya yang telah terjadi, serta diskusi tentang kemungkinan pemberian kontrasepsi ataupun tindakan sterilisasi.

Selasa, 04 Desember 2012

Tanda dan Gejala Hiperemesis Gravidarum

oleh Phienna Ecca


Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan, bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan tetapi, apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
1.                                                      Tingkatan I (Ringan)
a.       Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita.
b.      Ibu merasa lemah.
c.       Nafsu makan tidak ada.
d.      Berat badan menurun.
e.       Merasa nyeri pada epigastrium.
f.       Nadi meningkat sekitar 100 per menit.
g.      Tekanan darah menurun.
h.      Turgor kulit berkurang.
i.        Lidah mengering.
j.        Mata cekung.
2.                                                      Tingkatan II (sedang)
a.       Penderita tampak lebih lemah dan apatis.
b.      Turgor kulit mulai jelek.
c.       Lidah mengering dan tampak kotor.
d.      Nadi kecil dan cepat.
e.       Suhu badan naik ( dehidrasi ).
f.       Mata mulai ikteris.
g.      Berat badan turun dan mata cekung.
h.      Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria, dan kontipasi.
i.        Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.
3.                                                      Tingkatan III ( Berat )
a.       Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma).
b.      Dehidrasi hebat.
c.       Nadi kecil, cepat dan halus.
d.      Suhu meningkat dan tensi turun.
e.       Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenalsebagai ensepalopati Wernicke, dengan gejala nistagmus, diplopia, dan penurunan mental.
f.       Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.

ASMA DALAM KEHAMILAN

BY. Tri megawati

A. ETIOLOGI

          Asma ditandai dengan kembalinya sumbatan saluran pernapasan dari kontraksi otot saluran pernapasan, lendir dan pembengkakan pada saluran pernapasan tersebut.  Peradangan sumbatan saluran pernapasan dan kepekaan terhadap beberapa rangsangan seperti bahan-bahan iritasi, infeksi virus, udara dingin, dan obat-obatan. Gambaran klinis asma bervariasi dari yang ringan suara “bengek” sampai dengan yang berat hingga gagal napas dan kematian karena kekurangan oksigen. Meskipun  perubahan fungsi paru secara umum dapat kembali seperti semula dan ditoleransi secara baik pada wanita yang tidak hamil, stadium awal asma memiliki risiko yang besar terhadap kehamilan dan janinnya.

B. DAMPAK ASMA DALAM KEHAMILAN

         Serangan asma memiliki dampak negatif pada  kehamilan. Adanya asma akan meningkatkan persalinan prematur, bayi lahir dengan berat bayi rendah, kematian perinatal dan pre-eklampsia (kenaikan tekanan darah saat kehamilan). Wanita hamil dengan asma tidak harus menghentikan pengobatan kecuali atas saran dokter. Asma menyerang selama kehamilan biasanya paling buruk pada minggu ke 24-36. Jarang terjadi serangan selama proses persalinan dan akan kembali “normal” dalam 3 bulan setelah persalinan. Tidak ada bukti bahwa kehamilan merupakan faktor yang mendasari terjadinya asma. Wanita yang di awal kehamilannya memiliki asma berat akan memiliki pengalaman yang lebih berat dari asma itu sendiri daripada yang memiliki asma ringan saat kehamilannya.

C. PENGOBATAN


  1. Jika lebih dari satu professional kesehatan yang terlibat selama masa kehamilan Anda, pastikan mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain guna pengobatan terbaik. Pilihlah dokter kandungan yang pernah bergabung di yayasan asma atau sudah terbiasa mengobati wanita hamil penderita asma. 
  2. Terus awasi paru-paru Anda selama masa kehamilan guna memastikan janin Anda mendapatkan oksigen yang cukup. Karena keparahan asma dapat berubah sekitar 2/3 selama masa kehamilan, Anda harus memeriksa kandungan setiap bulannya guna memantau gejala dan fungsi paru-paru. Biasanya dokter akan menggunakan Spirometri atau Peak Flow Meter untuk mengukur fungsi paru-paru Anda.  
  3.  Lakukan pantauan terhadap pergerakan janin secara teratur setelah minggu ke-28,   Pertimbangkan untuk melakukan USG setelah minggu ke-32 kehamilan guna memantau pertumbuhan janin jika asma Anda tidak dikontrol dengan baik. USG juga dapat membantu dokter Anda memeriksa janin setelah serangan asma.
  4. Cobalah untuk menghindari segala bentuk pemicu asma, seperti asap rokok, atau debu, sehingga Anda dapat mengonsumsi lebih sedikit obat. Kebanyakan wanita memiliki gejala penyumbatan pada hidung yang berhubungan dengan serangan asma. Tak hanya itu Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang sering terjadi saat kehamilan, juga dapat menyebabkan gejala asma.
  5. Segera berikan tubuh Anda vaksinasi flu, baik dalam trimeseter satu, dua ataupn ketiga. Vaksinasi flu efektif selama satu musim. Vaksin ini juga aman bagi kehamilan dan disarankan bagi seluruh wanita hamil. Penggunaan obat-obat asma biasanya sama dengan sebelum Anda hamil. Bila dokter memberikan obat pasti sudah dengan pertimbangan yang matang, dengan mempertimbangkan dampak obat terhadap janin, kehamilan termasuk proses persalinan dan menyusui. 
  6.  Informasikan kepada dokter kandungan Anda bahwa Anda memiliki asma. Kerjasama yang baik antara Anda dan dokter dalam merencanakan manajemen asma akan sangat membantu. Anda mungkin akan menemukan bahwa tanda-tanda asma telah berubah atau sensitivitas terhadap pemicu terjadinya asma juga berbeda. Ceritakan kepada dokter obat yang Andaminum dan tidak hanya obat-obat asma saja.